LOMBA KARYA TULIS ILMIAH

MATHEMATIC PAPER COMPETITION 1 

TINGKAT PERGURUAN TINGGI SE- JAWA TIMUR TAHUN 2018





JUDUL KARYA TULIS

MATEMATIKA KEHIDUPAN (KONSEP HIMPUNAN BILANGAN SEBAGAI BENTUK KEKUASAAN TUHAN)

Sub Tema

Matematika dan Agama











Disusun Oleh :
Nabila Sevi Diani               (T20157014)
Siti Nur Fadilah                  (T20157021)
Maria Ulfa                          (T20157028)





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER

2018













ABSTRAK



     Munculnya faham sekularisme yang merupakan paham yang dianggap membebaskan diri dari agama. Sekularisme identik dengan laa diniyyah (tidak terikat ad-dien), yaitu sebuah gagasan yang menyeru untuk menegakkan kehidupan di atas landasan ilmu dan akal serta memperhatikan kemaslahatan tanpa terikat dengan agama. Dengan menggunakan keterkaitan dengan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari Al-Quran menyatakan dirinya sebagai firman Allah yang terakhir, penjaga dan pelindung wahyu yang pernah diterima oleh para rasul terdahulu, serta merupakan pelengkap dan penyempurna (ajaran) yang akan menuntun kehidupan ummat manusia di masa depan. Kita dapat menganalogikan antara alam semesta dengan himpunan bilangan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa alam semesta itu tersusun dari  galaksi bima sakti dan dilamnya terdapat planet-planet dan juga matahari dan benda-benda langit lainnya.

Kata kunci : Manusia, Kehidupan, Kekuasaan Tuhan



BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar belakang

Di era globalisasi yang semakin maju. Dimana globalisasi memiliki arti sebagai keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi sempit. Globalisasi sangatlah berpengaruh di setiap sektor kehidupan, seperti ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Banyaknya aspek yang dipengaruhi oleh fenomena ini haruslah dipilah dan dipilih yang mana yang baik harus kita ambil, dan yang buruk kita tinggalkan.

Salah satu yang terkena dampaknya adalah di bidang sosial dan budaya.  Misalnya munculnya faham untuk tidak berketuhanan atau kita menyebutnya dengan faham Atheis atau tidak mempunyai agama. Padahal agama itu menurut pengertian dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan lingkungannya. Dari pengertian tersebut dapat diambil pemahaman bahwa adanya Tuhan sebagai Mahakuasa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang sangat luas dan paling luas.

Dampak yang ditimbulkan dari munculnya faham Atheisme ini  harus segera dihapuskan. Karena atheisme tidaklah sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pada sila ke satu yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Oleh karena itu, dengan banyak mengetahui dan melihat kekuasaan Tuhan akan membuat manusia itu sadar dan akan kembali ke jalan yang benar.

Selain itu peran Matematika sebagai ilmu pengetahuan dasar yang diunakan dalam kehidupan sehari-hari tentunya juga memiliki keterkaitan akan kekuasaan Allah. Misalnya mengenai himpunan bilangan. Dengan menganalogikan adanya keterkaitan antara materi matematika, yaitu mengenai himpunan bilangan dengan jagat raya beserta isinya sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Jagat raya yang amat luas dan didalamnya terdapat bagian lain yang mana di dalam bagian-bagian lain tersebut ada bagian-bagian lain yang menyusunnya. Seperti himpunan bilangan yang terdiri dari bilangan kompleks yang di dalamnya terdapat bilangan real dan bilangan imajiner dan seterusnya hingga terdapat bilangan asli.

Dengan adanya karya ilmiah ini diharapkan dapat menyadarkan manusia-manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan memepercayai kekuasaan Tuhan dan dapat menegakkan ideologi bangsa, yaitu pancasila sila ke satu mengenai ketuhanan yang Maha Esa. Dan mencegah adanya kerusakan yang lebih yang diakibatkan oleh globalisasi.



1.2    Rumusan masalah

1.      Apa penyebab dari melemahnya kepercayaan manusia kepada Tuhan?

2.      Bagaimana cara mengatasi adanya pelemahan kepercayaan manusia kepada Tuhan dengan menggunakan keterkaitan dengan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari?



1.3    Tujuan dan Manfaat

1.      Untuk mengetahui penyebab dari melemahnya kepercayaan manusia kepada Tuhan

2.      Untuk mengetahui cara mengatasi adanya pelemahan kepercayaan manusia kepada Tuhan dengan menggunakan keterkaitan dengan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari




BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Penelitian yang Relevan

Perbedaan dan Persamaan dengan Peneliti Terdahulu

No
Nama
Judul
Perbedaan
Persamaan
Originalitas Penelitian
1
Abdussakir
Model integrasi matematika dan Al-Quran  serta praktik pembelajarannya
Penelitian terdahulu lebih fokus meneliti tentang model integrasi matematika
Persamaan terletak pada nilai-nilai Al-Quran melalui pembelajaran matematika dapat berhasil dengan baik.
Matematika Kehidupan (Konsep Himpunan Bilangan Sebagai Bentuk Kekuasaan Tuhan)

2
Faza Thirafi
Pemakaian Bilangan Kompleks pada  Potential Flow Dua Dimensi
Penelitian terdahulu lebih fokus meneliti tentang pemakaian bilangan kompleks, Potential Flow, dua dimensi, dan fluida.
Persamaan terletak pada penggunaan bilangan kompleks yang mengandung bilangan imajiner saja memiliki manfaat yang begitu luas.

Sumber data:

a.       Repository Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

b.      Repository Institut Teknologi Bandung



2.2  Himpunan bilangan

Terdapat klasifikasi bilangan yang ada dalam matematika, yaitu mula-mula dari bilangan kompleks yang terdiri atas bilangan real dan bilangan imajiner, bilangan real terdiri atas bilangan rasional dan irasional. Sedangkan bilangan rasional terdiri dari bilangan bulat dan bilangan pecahan. Selanjutnya, bilangan bulat terdiri atas bilangan cacah dan negatif. Bilangan cacah dibagi lagi menjadi bilangan nol dan bilanagan asli atau positif. Dari bilangan positif, diurai lagi menjadi bilangan prima dan bilangan komposit.[1]

Adapun komponen dari bilangan real dikelompokkan sebagai berikut:

a.       Bilangan asli: 1, 2, 3,....,  digunakan untuk menghitung banyaknya objek suatu himpunan.

b.      Bilangan prima: 2, 3, 5, 7, 11, ......, adalah bilangan asli yang mempunyai tepat 2 faktor.

c.       Bilangan komposit: 4, 6, 8, 9, 10, ....., adalah bilangan asli yang mempunyai lebih dari dua faktor.

d.      Bilangan cacah: 0, 1, 2, 3, ...., adalah bilangan asli beserta unsur nol.

e.       Lawan bilangan asli (bilangan bulat negatif): -1, -2, -3, ....,

f.       Bilangan bulat: ..., -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ....,

g.      Bilangan genap: ...., -6, -4, -2, 0, 2, 4, 6, ...., adalah bilangan bulat kelipatan dua.

h.      Bilangan ganjil: ...., -5, -3, -1, 1, 3, 5, ...., adalah bilangan bulat bukan kelipatan dua

i.        Bilangan pecahan adalah berbentuk ,  bilangan bulat dan  bilangan asli, dengan  tidak habis dibagi . Bilangan pecahan di antara 0 dan 1 disebutpecahan sejati

j.        Bilangan rasional adalah bilangan berbentuk ,  bilangan bulat dan  bilangan asli. Di sini  bilangan bulat  habis dibagi , dan  bilangan pecahan bila tidak habis dibagi . Bilangan rasional bersifat selalu mempunyai bentuk desima berulang.

k.      Bilangan irasional: adalah bilangan yang bukan rasional. Bilangan ini bukan hasil bagi bilangan bulat dan bilanagan asli, dan juga tidak mempunyai bentuk desimal berulang.

l.        Bilangan real: adalah gabungan bilangan rasional dan irasional, yang merupakan susunan sekelompok angka dengan aturan tertentu.[2]






2.3  Semesta Alam

A.    Galaksi Bimasakti

Galileo dengan teleskopnya menemukan bahwa pita cahaya difuse yang disebut kabut susu (The Milky Way) terdiri dari sejumlah besar binatang yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa (unaided eye). Kumpulan sejumlah besar binatang dalam kesatuan akibat gravitasi mutual disebut galaksi. Benda langit yang memancarkan cahaya sendiri disebut bintang. Matahari adalah sebuah bintang yang termasuk dalam galaksi Bimasakti atau galaksi kabut susu (The Milky Way Galaxy). Galaksi Bimasakti yang berisi sekitar 100 milyar bintang adalah salah satu sistem kumpulan bintang yang sekarang dikenal sebagai tipe utama struktur alam semsta (universe).

Usaha untuk menentukan ukuran system galaksi diawai oleh ahli astronomi Belanda Jacobus kapteyn (1851 - 1922) pada abad ke 20. Ia adalah seorang pioneer astronomi statistic modern yang berusaha yang berusaha menghitung jumlah bintang per satuan volume (the star density) sebagai fungsi jarak dari matahari. Jumlah relative bintang yang berbeda cahaya dalam contoh (sample) yang dikaji, dianggap sama seperti jumlah relative di antara bintang-bintang di sekitarnya yang dapat dikaji secara langsung. Dengan mengetahui jumlah relative bintang dengan kilapan (brightnesses) dasar yang berbeda, Kapteyn mampu menentukan distribusi dan kilapan bintang ketika dilihat pada langit dari bumi. Galaksi model ini disebut “alam semesta Kapteyn” yang merupakan system berbentuk piringan kecil dengan matahari pada pusatnya lihat gambar 3.1. Dari model alam semesta Kapteyn, diperoleh densitas bintang (jumlah bintang per satuan volume) turun menjadi setengah dari nilai di sekitar matahari pada jarak 800 parsek dan turun menjadi 1/6 nya pada jarak 3.500 parsek dalam bidang galaksi Bimasakti (satu parsek ).

Ahli astronomi Kapteyn menganggap bahwa tidak ada material yang menyerap antara matahari dan objek-objek yang dikaji.  jika ada penyerapan maka material demikian akan menambah kesuraman bintang di samping pengurangan kiapan terhadap jarak. jarak yang ditetapkan dengan anggapan tidakada aborpsi, selalu lebih besar daripada jarak yang sebenarnya (actual). perbedaan ii meningkatkan dengan jumlah absorpsi yaitu kesalahan lebih besar untuk jarak bintang yang lebih jauh. sekarang diketahui bahwa sebagian besar penyerapan material terlokalisasi dalam bidang galaksi. 

B.     Asal Alam Semesta

Gagasan ahli astronomi Belgia, Abbe Georges Lemaitre dalam tahun 1927 dan seperti ahli yang lain menyatakan bahwa teori Big Bang atau teori Bola Api Purba dapat berubah bahkan gugur blamana diperoleh fakta, kejelasan dan bukti lebih anjut yang lebih baik.

a.    Model Big Bang

Gagasan Big Bang didasarkan pada alam semesta yang berasal dari keadaan panas dan padat yang mengalami ledakan dahsyat dan mengembang. Semua galaksi di alam semsta akan memuai dan menjauhi pusat ledakan.

b.    Model Keadaan Tunak

Menurut teori ini, alam semsta tidakada awalnya dan tidak akan berakhir. Alam semesta selalu terlihat tetap seperti sekarang.  Materi secara terusmenerus dating berbentuk atom-atom hydrogen dalam angkasa (space) yang membentuk galaksi bbaru dan mengganti galaksi lama yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya.

c.    Model Osilasi

Teori Osilasi menduga bahwa alam semesta tidak ada awal dan tidak ada akhirnya. alam model Osilasi dikemukakan bahwa sekarang alam semsta tidak konstan, melainkan berekpansi yang dimulai dengan dentuman besar (Big Bang), kemudian beberapa waktu yang akan dating gravitasi mengatasi efek ekspansi ini sehingga alam semsta akan mulai mengepis (collapse), akhirnya mencapai titik koalisensi (gabungan) asal dimana temperatur dan tekanan tinggi akan memecahkan semua materi ke dalam partikel-partikel elementer (dasar) sehingga terjadi dentuman besar baru dan ekspansi mulai lagi.

C.     Lubang Hitam

Schwarzschild membuktikan bahwa radius lubang hitam (radius Schwarzschild) R dapat dihubungkan dengan massa-nya M mengikuti persamaan R =  dimana G adalah konstanta gravitasi universal, dan C adalah kecepatan cahaya. Jika bumi menyusut tanpa kehilangan massanya, maka bumi akan berdiameter (D = 2R) kira-kira 18 mm sebelum berubah menjadi sebuah lubang hitam. Inti galaksi yang terdiri atas milyaran bintang akan menyusut menjadi sebuah lubang hitam apabila semua bintang itu dimasukkan ke dalam ruang yang tidak lebih besar dari tata surya kita.

D.    Nova dan Supernova

Aristoteles (384-32 SM), ketika menyusun alam semesta kristalin menyatakan bahwa langit tidak berubah. Sepanjang aba pertengahan, ajaran ini mengharuskan bahwa sejumlah bintang-bintang yang diamati konstan (tidak berubah). Baru pada tahun 1572, ajaran ini mendapat pukulan keras dengan ditemukannya sebuah bintang baru atau nova (bahasa latin untuk “baru”), sekarang disebut binang Tycho (Thycho’s star).

Beberapa tahun kemudian, Kepler menunjukkan pengamatan serupa pada nova lain yang meledak dalam pandangan konstelasi Ophiuchus pada tahun 1604. Dengan datangya fotografi dan teelskop besar pada abad ke 19, ahli astronomi menemukan sejumlah besar novae (jamak untuk nova) yang tersebar di langit. Pada awal abad ke-20, nova kemudian dianggap sebuah bintang baru yang berasal dari ledakan mendadak cahaya sebuah bintang.

E.     Pemancar Energi Misterius

Thomas Matthews dan Allan Sandage pada tahun 1960 menemukan sebuah benda seperti bintang redup yang disebut benda quasar (quasi-stellar). Quasar dengan pergeseran merah yang kuat menunjukkan benda-benda termuda yang dapat dilihat dalam alam semesta. Quasar adaah sumber geombang radio yang kuat sehingga tampak seperti bintang. Ahli astronomi radio yang kuat menemukan inti galaksi Bimasakti merupakan pemancar radio raksasa, mereka juga menemukan sumber radio yang kuat di luar galaksi kita. sampai sekarang lebih dari 200 quasar telah ditemukan.



2.4 Kekuasaan Tuhan

Manusia tidak hidup sendiri di bawah cakrawala Penciptaan. Segala sesuatu bertaut erat dengan rencana ilahi- yaitu skema menyeluruh dari Yang Maha Mencukupi. Dia-lah yang telah menciptakan manusia, dan Dia pulalah yang menyediakan seluruh keperluan hidup yang lebih baik. Baik dalam keperluan jasmaniah, demi eksistensi dan pertumbuhannya di bumi.

Al-Qur’an dan Terjemahnya:

إِنَّ اللّٰـهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَىَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَىِّ ۚ ذٰلِكُمُ اللّٰـهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ ﴿الأنعام:٩٥﴾

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ الَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿الأنعام:٩٦﴾

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

وَهُوَ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا۟ بِهَا فِى ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ﴿الأنعام:٩٧﴾

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.

وَهُوَ الَّذِىٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ ﴿الأنعام:٩٨﴾

Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.

وَهُوَ الَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنّٰتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشٰبِهٍ ۗ انظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكُمْ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿الأنعام:٩٩﴾

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

وَجَعَلُوا۟ لِلّٰـهِ شُرَكَآءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا۟ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنٰتٍۭ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحٰنَهُۥ وَتَعٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿الأنعام:١۰۰

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

بَدِيعُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُۥ صٰحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ ﴿الأنعام:١۰١﴾

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.

ذٰلِكُمُ اللّٰـهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ ﴿الأنعام:١۰٢﴾

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصٰرَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴿الأنعام:١۰٣﴾

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

قَدْ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ عَمِىَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ ﴿الأنعام:١۰٤﴾

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).[3]

Sebuah  premis dasar telah ditetapka oleh al-quran bahwa seluruh skema eksistensi kehidupan ini mempunyai tujuan(purposive); bahwa Allah bukan saja Maha Pencipta dan Maha Mencukupi seluruh alam semesta, tetapi ia juga sumber dari segala sumber tuntunan hidup, bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam bebas ini, sejak dari atom yang terkecil hingga planet yang terbesar, dari mahluk yang terlemah hingga gunung-gemunung yang perkasa, semuanya berada dan bekerja menurut hukuk yang diciptakan-Nya.[4]


BAB III

PEMBAHASAN



4.1    Penyebab dari Melemahnya Kepercayaan Manusia kepada Tuhan

Banyaknya manusia yang merasa adanya kekangan dari adanya agama dan sistem ketuhanan pada masa postmodernisme. Mereka memilih untuk menggunakan akal fikiran mereka. Mereka akhirnya memunculkan sikap skeptisme terhadap adanya Tuhan dan juga Agama. Hingga kini mereka kerap memandang Tuhan dan agama sebagai sesuatu yang tidak kondusif atau sesuatu yang tidak relevan dengan keinginan dan akal pikiran manusia yang sejatinya(jurnal:eksistensi tuhan dan agama dalam perspektif masyarakat kontemporer.[5]

     Munculnya faham sekularisme yang merupakan paham yang dianggap membebaskan diri dari agama. Sekularisme identik dengan laa diniyyah (tidak terikat ad-dien), yaitu sebuah gagasan yang menyeru untuk menegakkan kehidupan di atas landasan ilmu dan akal serta memperhatikan kemaslahatan tanpa terikat dengan agama. Mereka cenderung untuk mendikotomikan pendidikan, yaitu  pendidikan akal (intelektual) dan rohani (spiritual). Ketika pendidikan terpisah dari petunjuk agama maka yang terjadi adalah kekeringan rohani pada sebagian siswa dan kebimbangan pada sebagian lainnya.[6]



4.2    Cara Mengatasi Adanya Pelemahan Kepercayaan Manusia kepada Tuhan

Dengan menggunakan keterkaitan dengan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari Al-Quran menyatakan dirinya sebagai firman Allah yang terakhir, penjaga dan pelindung wahyu yang pernah diterima oleh para rasul terdahulu, serta merupakan pelengkap dan penyempurna (ajaran) yang akan menuntun kehidupan ummat manusia di masa depan.[7]

Dari sana dapat diketahu bahwa peran alquran itu sangat penting bagi umat islam, karena alquran menjadi pedoman bagi umat islam. Oleh karena itu Alquran haruslah tetap dikaji untuk menaptakan pengetahuan-pengetahuan lainnya.

     Kita dapat menganalogikan antara alam semesta dengan himpunan bilangan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa alam semesta itu tersusun dari  galaksi bima sakti dan dilamnya terdapat planet-planet dan juga matahari dan benda-benda langit lainnya.[8]






DAFTAR PUSTAKA



Halim Fathani, Abdul. 2008, Matematika Hakikat & Logika. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Martono, Koko. 1999. Kalkulus. Jakarta : Erlangga.

QS. Al-An’am Ayat 95-104

Martono, Koko. 1978. Inti Ajaran Islam Al-Qur’an Paradigma Perilaku Duniawi dan Ukhrawi. Jakarta : CV. Rajawali.

Yusuf, Himyari. 2012. IAIN Raden Intan Lampung Volume 6, nomor 2.

Bafadhol, Ibrahim. 2015. Jurnal Sekularisme dan Pengaruhnya dalam Dunia Pendidikan Islam.

Martono, Koko. 1978. Inti Ajaran Islam Al-Qur’an Paradigma Perilaku Duniawi dan Ukhrawi. Jakarta : CV Rajawali.

Hawking, Stephen W. 2004. Teori Segala Sesuatu. Yogyakarta : Pustaka Belajar.





















[1] Halim Fathani, Abdul. 2008, Matematika Hakikat & Logika. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. Hlm 141
[2] Martono, Koko. 1999. Kalkulus. Jakarta : Erlangga hlm 4-5
[3] QS. Al-An’am Ayat 95-104
[4] Martono, Koko. 1978. Inti Ajaran Islam Al-Qur’an Paradigma Perilaku Duniawi dan Ukhrawi. Jakarta : CV. Rajawali. Hlm 2-3.
[5] Yusuf, Himyari. 2012. IAIN Raden Intan Lampung Volume 6, nomor 2.
[6] Bafadhol, Ibrahim. 2015. Jurnal Sekularisme dan Pengaruhnya dalam Dunia Pendidikan Islam.
[7] Martono, Koko. 1978. Inti Ajaran Islam Al-Qur’an Paradigma Perilaku Duniawi dan Ukhrawi. Jakarta : CV Rajawali. Hlm 5.
[8] Hawking, Stephen W. 2004. Teori Segala Sesuatu. Yogyakarta : Pustaka Belajar. Hlm 17.

Komentar

Postingan Populer