ETNOMATEMATIKA PENGRAJIN ANYAMAN DESA NOGOSARI
ETNOMATEMATIKA PENGRAJIN ANYAMAN DESA NOGOSARI KECAMATAN RAMBIPUJI JEMBER
Oleh:
Puji Ayu Lestari (T20157002), Anisatil Wahidah (T20157006), Zuhal Firdaus (T20157020), Siti Nur Fadilah (T20157021), Nur Afifa (T20157032)
Program Studi Tadris Matematika, Institut Agama Islam Negeri Jember
ABSTRACK
Sebagian masyarakat, khusunya masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak menyadari telah menerapkan ilmu matematika dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya dalam hal berbisnis, mengukur, dan masih banyak lagi. Etnomatematika yang merupakan pengaitan konsep matematika dengan budaya dapat memberikan makna tersendiri bagi yang mempelajarinya. Keberadaan etnomatematika pengrajin anyaman bambu di desa Nogosari kecamatan Rambipuji-Jember ini, dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa dan juga membuat siswa dan masyarakat lebih memahami bagaimana keterkaitan matematika dengan budaya. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian etnografi. Penduduk desa Nogosari membuat kerajinan anyaman ini dengan berbagai macam bentuk anyaman seperti tampah, ereg, tenong dan lain-lain. Semua itu digunakan sebagai alat-alat rumah tangga dan dibuat secara manual (tradisional) oleh penduduk desa Nogosari. Tekhnik pembuatan berbagai anyaman tersebut menggunakan bahan dan alat-alat yang sama, seperti: bahan anyaman dari bambu, pengikat anyaman dari tali plastik, gunting, arit atau alat pemotong bambu dan pisau. Dalam pembuatan anyaman ini pun tidak lepas dari konsep matematika seperti, perbandingan, barisan aritmatika, teselasi dan masih banyak lagi. Hasil kerajinan anyaman di desa Nogosari ini banyak dipasarkan di luar kota bahkan sampai di luar Jawa, salah satunya adalah Bali, yang merupakan masyarakatnya banyak mempergunakan alat anyaman seperti tampah untuk melakukan ritual-ritual (adat) yang biasa mereka lakukan disana.
Kata Kunci : Etnomatematika, Budaya, Anyaman
I. Pendahuluan
Matematika sering dianggap sebagai hal yang netral dan terbebas dari budaya (culturraly-free). Matematika dipelajari di sekolah sebagai mata pelajaran yang tidak terkait dengan budaya. Namun, tanpa mereka sadari, Matematika telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia sudah sangat lama. Di mulai dari jaman pra sejarah, jaman bangsa mesir kuno, bangsa yunani, bangsa india, bangsa cina bangsa romawi, hingga bangsa eropa di masa kini. Kreasi manusia dalam bentuk kebudayaan terwujud dalam bentuk gagasan, aktivitas maupun artefak. Matematika sebagai bagian dari kebudayaan dapat diterapkan dan digunakan untuk menganalisis hal-hal yang bersifat inovatif. Jadi, matematika dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan budaya yang unggul.
Budaya merupakan suatu pengetahuan dan konsepsi, diwujudkan dalam model komunikasi simbolik dan non-simbolis, tentang teknologi dan ketrampilan, perilaku adat, nilai-nilai, keyakinan, dan sikap, masyarakat telah berkembang dari sejarah masa lalu, dan memodifikasikan secara progresif dan menambah untuk member makna dan mengatasi masalah masa depan sekarang dan diantisipasi keberadaanya.
Etnomatematika merupakan istilah baru dalam matematika yang mengaitkan budaya dengan konsep matematika. Ia mengistilahkan bahwa matematika yang dipraktekkan oleh kelompok budaya seperti kelompok perkotaan dan pedesaan, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu, atau masyarakat adat sebagai etnomatematika.
“...Ethnomathematics is a research program incorporating history, antropology, pedagogy, linguistics, and philosophy of mathematics with pedagogical implications that focus on the techniques of explaining, understanding and coping with different sociocultural environments...” (D’Ambrosio, 1985).
Oleh karena itu etnomatematika tumbuh dan berkembang dari budaya, maka sering masyarakat tidak menyadari kalau mereka telah menggunakan matematika. Etnomatematika dipersepsikan sebagai lensa untuk memandang dan memahami matematika sebagai hasil serta produk budaya.
Kerajinan anyam merupakan salah satu dari kebudayaan yang dimiliki manusia sejak zaman prasejarah dalam rangka memenuhi kebutuhan akan sandang dan perlengkapan pendukung sehari-hari. Sampai saat ini, kerajinan anyam merupakan salah satu bentuk kerajinan yang terus dihasilkan oleh sebagian masyarakat Indonesia dengan ciri khas bentuk dan ornamen beragam dengan menggunakan bahan yang tersedia di alam, baik bambu, pandan, rotan dan mendong (Patria, 2015).
Bambu merupakan tanaman masyarakat Indonesia yang sudah dikenal secara luas dan memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Bambu juga memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu, bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan (Rahmat, 2016).
Anyaman adalah teknik membuat karya seni rupa yang dilakukan dengan cara menumpang tindihkan (menyilangkan) bahan anyam yang berupa lungsi dan pakan. Lungsi merupakan bahan anyaman yang menjadi dasar dari media anyam, sedangkan pakan yaitu bahan anyaman yang digunakan sebagai media anyaman dengan cara memasukkannya ke dalam bagian lungsi yang sudah siap untuk dianyam. Bahan-bahan anyaman dapat dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang sudah dikeringkan, seperti lidi, rotan, akar, dan dedaunan untuk dijadikan suatu rumpun yang kuat (tampar) (Patria, 2015).
Pola kerja perajin anyaman di seluruh Indonesia relatif serupa. Mereka memulainya dengan mendapatkan bahan baku sebagian besar mencari sendiri mengeringkan, menipiskan, dan kemudian merajutnya. Peralatan yang digunakannya pun umumnya masih sederhana seperti: pisau pemotong, pisau penipis, tang dan catut (Dekranas, 2011:136) (dalam Patria).
Berdasarkan bentuknya, anyaman dibagi menjadi dua, yaitu:
Anyaman dua dimensi, yaitu anyaman yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar saja, kalaupun seandainya memiliki ketebalan, ketebalan tersebut tidak terlalu diperhitungkan.
Anyaman tiga dimensi, yaitu anyaman yang memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi (Dekranas, 2011:136) (dalam Patria).
Berdasarkan cara membuatnya, anyaman dibagi menjadi tiga, yaitu:
Anyaman datar (Sasak), yaitu anyaman yang dibuat datar, pipih, dan lebar. Jenis kerajinan ini banyak digunakan untuk tikar, dinding rumah tradisional, dan pembatas ruangan.
Anyaman miring (Serong), yaitu anyaman yang dibuat miring, bias berbentuk dua dimensiatau tiga dimensi. Jenis kerajinan ini banyak digunakan untuk keranjang, tempat tape, dan lain sebagainya.
Anyaman persegi (Truntum), yaitu anyaman yang dibuat dengan motif persegi, bisa segi tiga, segi empat, segi delapan, dan seterusnya. Anyaman ini bisa berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi. Berdasarkan tekniknya, anyaman dibagi menjadi dua, yaitu: 1) Anyaman rapat, yaitu anyaman yang dibuat secara rapat. 2) Anyaman jarang, yaitu anyaman yang dibuat secara jarang (renggang) (Mutmainah, 2014) (dalam Patria).
.
Kerajinan Anyaman Bambu di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji Jember, merupakan suatu industri rumah tangga yang menjadi budaya di Desa Nogosari yang dilakukan secara turun temurun. Asal muasal anyaman bambu tersebut dikarenakan adanya bambu di Jember yang sangat melimpah sehingga penduduk Desa Nogosari memanfaatkan bambu tersebut menjadi kerajinan anyaman bambu yang bernilai ekonomis oleh masyarakat.
Penduduk Desa Nogosari membuat anyaman bambu sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Setiap keluarga atau setiap rumah membuat anyaman bambu dengan berbagai macam yaitu tampah, ereg, dan tenong. Semua itu digunakan sebagai alat-alat rumah tangga. Kerajinan anyaman bambu dibuat secara manual dan tradisional oleh penduduk Desa Nogosari.
Kerajinan anyaman bambu di Desa Nogosari ini sangat relatif murah dijual, mulai dari harga 5 ribu sampai dengan kisaran tertinggi 25 ribu. Anyaman bambu dijual mahal ketika ada pengepul yang akan menjualkan anyaman tersebut sampai ke Bali. Untuk setiap rumah dibatasi 10-15 anyaman untuk setiap minggu, selebihnya akan dijual di pasaran dengan harga yang murah. Anyaman di Desa Nogosari biasanya banyak dipasarkan di luar kota bahkan di luar Jawa.
II. Metode Penelitian
Penelitian ini, bertempat di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember, tepatnya dirumah Bapak Suwardi pembuat anyaman tampah.
Penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian etnografi. Penelitian etnografi merupakan suatu kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Menurut Spradley, tujuan etnografi pada dasarnya untuk memahami sudut pandang penduduk asli, melalui hubungannya dengan kehidupan dan untuk mendapatkan pandangannya tentang dunianya (Spradley, 2007: 3). Sedangkan pendekatan kualitatif digunakan peneliti karena peneliti ingin terlibat secara langsung di lapangan, mencatat apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap dokumen yang ditemukan di lapangan, dan membuat laporan secara lengkap dan terperinci. Menurut John W. Creswell (Creswell, 1994:150-1) metode pendekatan kualitatif merupakan sebuah proses investigasi. Dalam pendekatan kualitatif dengan penelitian etnografi yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti sendiri (human instrument), yang mana peneliti sebagai instrumen utama yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Untuk lebih jelasnya, prosedur penelitiannya sebagai berikut,
III. Pembahasan
Anyaman Tampah
Definisi dan Sejarah Anyaman Tampah
Tampah adalah ayakan atau penyaring besar yang terbuat dari anyaman belahan batang pohon bambu yang di belah yang berbentuk bundar seperti piring berdiameter antara 65-80 cm. Biasanya digunakan untuk mengayak beras, dengan tujuan memisahkan antara beras dan gabah kopong (kosong). Selain beras, kacang hijau atau bahan makanan lain juga biasa untuk diayak di tampah demi memisahkan antara bahan makanan yang bisa di masak dengan kotoran atau bahan yang tak dapat dimasak. Selain berfungsi untuk mengayak, Tampah digunakan untuk meletakkan tumpeng dan hidangan lain dalam perayaan adat jawa. Pada intinya tampah memiliki space luas untuk meletakkan segala sesuatu yang mampu dimasukkan kedalamnya untuk diayak dengan tujuan memisahkan antara yang baik dengan yang buruk.
Teknik Pembuatan Anyaman Tampah di Desa Nogosari
Dalam membuat anyaman tampah, bahan-bahan yang diperlukan antara lain,
Bambu
Bambu yang dibuat anyaman pada tampah adalah bambu yang berumur sedang (tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda).
Tali Plastik
Tali ini, memang sudah biasa dibuat untuk menali anyaman-anyaman. Karena selain kuat, juga mudah untuk ditali (tidak licin).
Gunting
Arit/ pemotong yang biasa digunakan untuk membelah bambu.
Setelah bahan-bahan semuanya terpenuhi, dilanjutkan dengan membuat anyaman bambu.
Langkah Pertama
Siapkan bambu yang berumur sedang tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda, karena apabila bambu yang dipakai terlalu tua maka akan susah dibentu, susah ditekuk-tekuk dan cenderung mudah patah. Sedangkan bambu yang terlalu muda, cenderung basah sehingga akan membuat anyaman cepat berjamur dan berbau. 1 gelondong bambu dapat membuat 15 buah tampah dengan diameter 62 cm sedangkan satu tampah membutuhkan 2 tali sepanjang 32 cm.
Ide matematis :
Perbandingan Senilai
Jika nilai suatu besaran bertambah maka nilai besaran lain yang dibandingkan dengannya juga bertambah. Misal variabel x adalah bambu dan variabel y adalah banyaknya tampah dan variabel z adalah banyaknya tali Maka,
X y z
1 15 30
2 30 60
Jadi perbandingannya :
x_1/x_2 = y_1/y_2 ↔ 1/2 = 15/30
Barisan Aritmatika
Barisan aritmatika suatu barisan dengan satu bilangan tertentu yang bisa ditambahkan pada suku ke berapa pun untuk mendapatkan suku berikutnya. Dengan demikian jika U1, U2, U3, …, Un, … merupakan barisan aritmatika dengan selisih (beda) antar suku sama, (common difference) yaitu b, maka :
U_(n+1)= U_n+ b
Pertambahan jumlah tampah membentuk suatu pola bilangan yaitu pola bilangan dengan suku pertama atau a = 15, suku kedua atau U2 = 30 dengan beda atau b = 15.
Secara umum, barisan aritmatika ditulis sebagai berikut,
a, a+b, a+2b, a+3b, ... dst.
Jadi, diperoleh rumus barisan aritmatika,
Un = a + (n - 1)b
b = Un –U (n-1) atau b= U (n+1) – Un
keterangan :
a = suku pertama
b = beda
n = banyaknya suku
Un = suku ke-n
Jadi, pertambahan jumlah tampah mengandung pola bilangan sebagai berikut
15, 30, 45, ...
Jika kita ingin mencari jumlah tampah yang dihasilkan dari 12 bambu maka kita dapat menggunakan rumus dari barisan aritmatika yaitu,
U_12 = 15 + (12-1)15
= 15 + (11)15
= 15 + 165 = 180
Jadi, 12 bambu dapat menghasilkan 180 buah tampah
Langkah Kedua
Bambu tersebut dibelah tipis-tipis dengan ketebalan 0,5 cm lebar 2 cm dan panjang 40 cm kemudian dijemur sampai kering sekitar 2-3 hari atau sesuai dengan keterikan matahari, supaya kandungan air menguap dan bambu benar-benar kering. Hal ini sebagai upaya untuk menghindari tumbuhnya jamur dan juga agar tampah tahan lama.
Ide matematis :
Persegi Panjang
Bentuk dasar persegi panjang dengan lebar 2cm dan panjang 40 cm, disini terdapat dalam bambu yang akan dianyam. Sebagai contoh pada Gambar 1.
Kesejajaran
Pada saat membelah bambu, bambu dibelah dengan sejajar dengan menyamakan panjang ketebalan serta lebar bambu yang dipotong.
Langkah Ketiga
Setelah bambu benar-benar kering, maka bambu dapat digunakan sebagai anyaman. Terlebih dahulu dipersiapkan acuan untuk menganyam yaitu berupa persegi yang panjang sisinya 72 cm. Kemudian belahan bambu tersebut dianyam dengan teknik dua-dua dengan jumlah belahan bambu 36 buah vertikal dan 36 buah horizontal yang sudah dikira-kira oleh pengrajin, sampai membentuk persegi yang panjang sisinya 72 cm
Ide matematis :
Teselasi
Pada tampah ini terdapat salah satu konsep teselasi yaitu, regular tessellation atau pengubinan beraturan dan terdapat suatu bentuk poligon yaitu persegi panjang, agar dalam pengubinan tampah ini tidak saling tindih dan tidak ada celah maka harus tepat menutup permukaan. Seperti pada gambar berikut,
Konsep Aljabar
Pada saat kita akan menganyam, pastinya kita akan menentukan berapa jumlah irisan bambu yang akan dipakai untuk menganyam. Hal ini dapat dihitung menggunakan konsep aljabar sebagai berikut,
Sisi persegi = lebar belahan bambu × (banyaknya bambu yang dibutuhkan)
72 = 2 × banyak bambu yang dibutuhkan
Banyak bambu yang dibutuhkan = 72/2 = 36 (horizontal/vertikal)
Dua garis berpotongan
Membentuk garis yang berpotongan. Jika diperhatikan dengan seksama maka anyaman tampah membentuk garis yang berpotongan
`
Langkah Keempat
Setelah itu, pengrajin membuat bingkai lingkaran dengan menggunakan acuan lingkaran yang sudah dibuat dengan diameter 36 cm. lingkaran tersebut terbuat dari bambu yang agak tebal yang ditekuk dan direkatkan dengan sisa-sisa bambu yang sudah dibuat seperti tali. Setelah membuat bingkai lingkaran, anyaman yang sudah dibuat tersebut kemudian di rekatkan dengan lingkaran dengan menggunakan tali plastik yang sudah dibelah menjadi 4 dan 2 tali tersebut di rekatkan secara melingkar keanyaman dan bingkai tersebut dengan jarak 5 cm. Sembari menali tali dari bambu di lepaskan satu persatu. Sehingga, tampah siap dipasarkan.
Ide Matematis :
Lingkaran
Tampah menggunakan pola lingkaran sebagai acuan untuk membuat bingkai lingkaran dengan diameter 36 cm. Sebagai contoh pada Gambar 4
III. Penutup
Kesimpulan dan Saran
Etnomatematika pada kerajinan anyaman yang ada di Desa Nogosari khususnya anyaman tampah, dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar siswa, menambah pengetahuan tentang budaya-budaya Indonesia yang memiliki konsep matematika. Selain itu, penelitian Etnomatematika yang ada pada unsur-unsur budaya Indonesia dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar serta memfasilitasi siswa dalam mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Adhani, Laksmira Kusumo., Mulyati, Guntarti Tatik., Suharno. 2017. Pengembangan Rancangan Alat Tenong Yang Ergonomis Menggunakan Metode Value Engineering & Kansei Engineering Di Perusahaan Makanan X Yogyakarta.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, TeknikPenelitianKebudayaan. hlm 207. Yogyakarta: PustakaWidyatama.
Juwariyah, Jujuk. MakalahSeniBudayaMembuatTampah. 06 oktober 2016. https://Jujuknet.blogspot.co.id/2016/10/makalah-seni-budaya-membuat tampah.html?m=1. (diakses 1 April 2018)
Mulyono, WidjajantiS. 2016. lmu Sosial di Indonesia: Perkembangan danTantangan Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Patilima, Hamid. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Patria, Asidigianti Surya., Mutmainah, Siti. 2015. Kerajinan Anyam Sebagai Pelestarian Kearifan Lokal. Surabaya: Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya.
Puspadewi, K. R., Putra, I G.N.N. 2014. Etnomatematika di Balik Kerajinan Anyaman Bali. Jurnal Seminar Nasional Prodi Pendidikan Matematika. Bali: Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Prabawati Nur Mega. 2016. Etnomatematika Masyarakat Pengrajin Anyaman Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung. Bandung: Universitas Siliwangi
Rahmat, Tri Suci. 2016. Analisis Kerajinan Anyaman Bambu Ditinjau Dari Teknik, Bentuk Dan Fungsi Di Industri Kerajinan “Bunga Matahari” Di Binjai. Medan: Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan.
Rosa, Milton, dkk. 2016. Ethnomathematics and its Diverse Approaches for Mathematics Education. Hamburg: ICME13
Rosidi, Rudi B. 2015. “Tampah dan Saringan Kehidupan.” [Online]. Tersedia: http://kavtania.blogspot.co.id/2015/03/tampah-dan-saringan-kehidupan.html. Diakses pada tanggal 31 Maret 2018.
Wikipedia Ensiklopedia. 2017. “Tampah”. Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses pada tanggal 30 Maret 2018. https://id.wikipedia.org/wiki/Tampah
Komentar
Posting Komentar