FADHILAH SURAT THAHA AYAT 25-28 (STUDI KASUS MAHASISWA IAIN JEMBER)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Allah SWT menciptakan alam semesta langit dan bumi beserta isinya sebagai pelengkap, selain itu Allah SWT menciptakan manusia dengan segala bentuk kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing umat manusia, disamping itu diciptakan pula malaikat sebagai contoh tauladan yang harus ditiru oleh semua umat manusia melalui ajaran yang diturunkan allah sebagai wahyu yang jadi pedoman untuk menuntun jalan hidup manusia ke arah yang benar supaya tidak tergoda oleh gangguan setan/iblis yang dapat menjerumuskan ke pintu neraka. Wahyu terakhir yang diturunkan allah SWT adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan beragama, Al-Qur’an adalah kitab suci yang harus selalu di pegang sebagai pedoman hidup yang tidak boleh dilupakan, Al-Qur’an merupakan wahyu ke-4 setelah kitab Injil, Jabur dan taurat. Al-Qur’an diturunkan allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang bermanfaat sebagai pedoman/ajaran untuk umat manusia, Syekh Muhammad Kudri Beik berpendapat bahwa al-quran adalah firman Allah SWT yang berbahasa arab, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dipahami isinya yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, ditulis dalam mushaf dimulai dengan surah Al-Fatihah dan di akhiri dengan surah An-Nas. Dalam Al-Quran terdapat 30 juz dan 114 ayat yang memiliki makna-makna penting untuk kehidupan, salah satunya yaitu surah thaha pada ayat 25-28 yang memiliki makna dan manfaat sebagai kemudahan ucapan dan urusan bagi mereka yang mengamalkannya. Banyak orang yang mengamalkan surah thaha untuk mengurangi kesulitan atau kurang mampu menyampaikan suatu informasi atau dakwah kepada orang lain sehingga apa yang disampaikannya tersebut kurang dipahami. Penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian living Qur’an tentang makna dan manfaat surat thaha ayat 25-28. 1.2 Rumusan Masalah 1. Mengapa Surat Thaha ayat 25-28 di amalkan 2. Mengapa Surat Thaha ayat 25-28 dijadikan sebagai pelancar berbicara 3. Bagaimana manfaat yang dirasakan setelah mengamalkan Surat Thaha ayat 25-28 1.3 Tujuan Laporan 1. Mengetahui makna dan manfaat Surat Thaha ayat 25-28 di amalkan 2. Mengetahui Surat Thaha ayat 25-28 dijadikan sebagai pelancar berbicara 3. Mengetahui bagaimana manfaat yang dirasakan setelah mengamalkan Surat Thaha ayat 25-28 1.4 Kegunaan Laporan 1. Hasil penelitian ini merupakan tugas ujian akhir semester ulumul Qur’an untuk kepentingan studi lanjut, diharapkan sebagai acuan untuk para penulis lainnya yang ingin melaksanakan penelitian living Qur’an. 2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan pengetahuan tentang adanya amalan Surat Thaha ayat 25-28 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Surat Thaha 25-28 dan Terjemah (28)يَفْقَهُوا قَوْلِي (27)وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (26)وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (25) صَدْرِي لِي اشْرَحْ رَبِّ قَالَ Artinya : Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku (25) dan mudahkanlah untukku urusanku(26) dan lepaskanlah kelakuan dari lidahku(27) supaya mereka mengerti perkataanku(28) 2.2 Tafsir Surat Thaha 25-28 {وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي صَدْرِي لِي اشْرَحْ رَبِّ قَالَ} Musa berkata, "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” (Thaha: 25-26) Ini adalah permintaan Musa a.s. kepada Tuhannya. Dia memohon agar dadanya dilapangkan dalam menunaikan tugas risalah yang dibebankan kepadanya. Karena sesungguhnya ia telah diperintahkan untuk menyampaikan suatu perkara yang besar dan akan menghadapi tantangan yang berat. Dia diutus untuk menyampaikan risalah Allah kepada seorang raja yang paling besar di muka bumi di masa itu. Sedangkan raja tersebut adalah orang yang paling sewenang-wenang, paling keras kekafirannya, paling banyak bala tentaranya, paling makmur kerajaannya, paling diktator, dan paling ingkar. Keangkaramurkaannya sampai kepada batas dia mengakui bahwa dia tidak mengenal Allah, dan mengajarkan kepada rakyatnya bahwa tidak ada tuhan selain dirinya sendiri. Pada mulanya Musa pernah tinggal di istana Fir'aun semasa kecilnya, ia menjadi anak angkat Fir'aun yang dipelihara dalam asuhannya. Kemudian setelah dewasa Musa membunuh seseorang dari mereka, karena itu ia merasa takut mereka akan balas membunuhnya, lalu ia melarikan diri selama itu dari pencarian mereka. Setelah itu Allah mengangkatnya menjadi seorang rasul kepada mereka sebagai pemberi peringatan yang menyeru mereka ke jalan Allah Swt. dan menyembah-Nya serta mengesakan-Nya, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Karena itulah Musa menyadari akan beratnya tugas yang dipikulnya. Ia berdoa kepada Tuhannya: {رَبِّاشْرَحْلِيصَدْرِيوَيَسِّرْلِيأَمْرِي} Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku. (Thaha: 25-26) Yakni jika Engkau tidak menolongku, tidak membantuku, tidak memperkuatku dan tidak mendukungku, tentulah aku tidak mampu mengemban tugas ini. {يَفْقَهُوا قَوْلِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي} dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku (Thaha: 27-28) Demikian itu karena lidah Musa agak kaku sehingga ucapannya kurang begitu fasih. Hal ini dialaminya ketika ia masih kecil dan disuguhkan kepadanya buah kurma yang merah dan bara api, lalu ia mengambil bara api dan mengunyahnya (sehingga lidahnya terbakar); kisahnya akan diterangkan sesudah ini. Dalam hal ini Musa tidak memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan lidahnya secara tuntas, melainkan dia hanya meminta agar kekurangfasihannya dalam berbicara dapat di atasi dan mereka yang diajak berbicara dengannya dapat memahami apa yang ia maksudkan, sebatas yang diperlukan. Seandainya Musa meminta kepada Allah agar menyembuhkan secara total kekakuan lidahnya, tentulah kekakuan lidahnya disembuhkan. Akan tetapi, para nabi tidaklah meminta kecuali hanya sebatas yang diperlukannya saja. Karena itulah maka kekakuan lidahnya masih ada padanya, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. yang menceritakan tanggapan Fir'aun terhadap Musa: {أَمْأَنَاخَيْرٌمِنْهَذَاالَّذِيهُوَمَهِينٌوَلايَكَادُيُبِينُ} Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? (Az-Zukhruf: 52) Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan lepaskanlah kekakuan lidahku. (Thaha: 27) Yakni satu tahap dari kekakuan lidahnya; seandainya Musa meminta agar seluruh kekakuan lidahnya dilenyapkan, tentulah permintaannya dikabulkan. Ibnu Abbas telah mengatakan bahwa Musa mengadu kepada Tuhannya tentang ketakutannya terhadap pendukung-pendukung Fir'aun sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukannya; juga mengadu kepada-Nya tentang kekakuan lidahnya, karena sesungguhnya lidah Musa mengalami kekakuan sehingga ia tidak dapat berbicara banyak. Lalu ia meminta kepada-Nya agar saudaranya (yaitu Harun) diangkat menjadi pembantunya yang kelak akan menjadi juru terjemahnya terhadap apa yang tidak fasih dari perkataan yang diungkapkannya. Lalu Allah mengabulkan permintaannya dan melenyapkan sebagian dari kekakuan lidahnya. 2.3 Hikmah isi Surat Thaha 25-28 Dan mari kita ingat untaian doa Nabi Musa a.s “Wahai Rabbku, lapangkan dadaku untukku dan mudahkanlah urusanku untukku “(QS Thaha ayat 25-26) Betapa indah untaian doa ini, Allah SWT telah memberikan ilham kepadanya untuk melantunkan doa ini. Musa kembali melanjutkan doanya “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku “( QS Thaha ayat 27) . Wahai Rabbku, Engkau mengetahui bahwa lidahku kaku dan tidak fasih maka lepaskanlah kekakuan ini dariku. Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata “Semoga Allah merahmati Musa, karena dia hanya meminta agar Allah melepaskan kekakuan lidahnya” Adapun penyebab mengapa dia memohon kepadaNya agar melepaskan kekakuannya ini adalah “Supaya mereka mengerti perkataanku”(QS Thaha ayat 28) BAB III BIOGRAFI 3.1 Nurul Safikah (Mahasiswi IAIN Jember) Nurul Safikah lahir pada tanggal 10 Desember 1996 di Jember. Anak ke-2 dari 3 bersaudara. Alamat kab. Jember, kec. Semboro, ds.Beteng Sidomekar. Prov Jawa Timur. Anak dari pasangan Alm. Suwanto dan Samijem. Pendidikan formal menempuh pendidikan di TK Darmawanita 1, Sekolah Dasar (SDN) Sidomekar 3, SMP Muhammadiyah 10 Semboro, SMKN 6 Jember, dan melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN JEMBER mengambil jurusan S1 Pendidikan Agama Islam (2015) sedang berproses. E-mail Bintang.sagitarius12@yahoo.com. No. telepon 085733829400. Prestasi juara kelas waktu SMP. 3.2 Ica Anisa (Mahasiswi IAIN Jember) Ica Anisa lahir pada tanggal 22 November 1996 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Alamat Kampung Talagasari, Ds Ciwarak, kab. Tasikmalaya, RT/RW 05/05 Tasikmalaya. Anak ke-1 dari 3 bersaudara. Dari pasangan Abdul Azis dengan Nani Mariani. Pendidikan formal memulai jenjang pendidikannya sejak berumur 5,5 tahun. Setelah menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidayah (MI) Al-Ikhsan, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ikhsan dan Madrasah Aliyah (MA) Amlapura di Bali, dan melanjutkan pendidikan tinggi di S1 Ilmu Al-Qur’an Tafsir Fakultas Ushuludin IAIN JEMBER pada tahun 2014. Pendidikan informal di salah satu pondok Al-Ikhsan Tasikmalaya (2007-2011). E-mail annisalhadi@gmail.com. No. telepon 082257255367. Prestasi yang didapatkan lomba juara I Tilawah Anak se-kecamatan, Pidato bahasa Inggris juara II se-kabupaten, Olimpiade Matematika juara I se-kabupaten, Pidato bahasa Arab juara II tingkat provinsi, Fahmil Qur’an juara II tingkat provinsi, Olimpiade TIK juara II se-kabupaten, Lomba kitab kuning juara III tingkat Nasional. BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Surat Thaha 25-28 menurut Nurul Safikah Nurul merupakan salah seorang mahasiswi IAIN Jember santri pondok pesantren jember jawa timur dari mulai semester 1 sampai dengan sekarang, Nurul juga mengamalkan surat thaha ayat 25-28 dari mulai Sekolah Menengah Atas (SMA) ijazah ayat tersebut di dapat dari salah seorang guru pendidikan agama Islam di sekolahnya yaitu ibu Tati, ayat tersebut mulai lebih di pahami dan dirasakan pada saat Nurul masuk semester 1 sampai sekarang, surat thaha ayat 25-28 diamalkan setelah selesai sholat dhuha, hal tersebut dikarenakan ketika selesai sholat dhuha kita akan melakukan aktifitas seharian sehingga dapat di perlancar. Ayat tersebut juga sering di amalkan setelah selesai sholat lima waktu sebanyak tiga kali tanpa bernapas. pada saat akan melaksanakan acara-acara besar, acara kegiatan mata kuliah kampus, presentasi dan lain-lain, Manfaat yang dirasakan pun sangat luar biasa, menghilangkan rasa grogi dan memperlancar segala aktifitas kita. Menurut sudut hukum surat thaha ayat 25-28 adalah doa yang amat bermanfaat. Doa ini berisi hal meminta kemudahan pada allah SWT dan agar dimudahkan dalam ucapan serta dimudahkan untuk memahamkan orang lain ketika ingin berdakwah Gambar 1. Wawancara Dengan Nurul Safikah 4.2 Surat Thaha 25-28 menurut Ica Anisa Ica adalah salah seorang alumni santri dari pondok Al-Ikhsan Tasikmalaya jawa barat sejak menempuh sekolah dasar (SD) selama 5 tahun dengan pengasuh pesantrenya yaitu kakeknya sendiri KH Abdul Manaf, pondok pesantren Al-Ikhsan Tasikmalaya merupakan salah satu pondok pesantren yang cukup besar di Jawa Barat sehingga menjadi suatu alternative Ica untuk menuntut ilmu keagamaan dan belajar lebih baik tentang kehidupannya, disamping itu juga Icha merupakan salah satu santri yang memiliki sifat pemalu, menyikapi hal tersebut KH Abdul Manaf selaku kakenya ica memberikan suatu ijazah pada icha untuk di amalkan yaitu surat Thaha ayat 25-28, ijazah tersebut diberikan tepat ketika acara lomba pidato, alasannya yaitu agar lancer ketika berbicara di depan orang banyak, mengurangi bahkan menghilangkan rasa malu dan grogi yang begitu besar, ketika berbicara atau berdiskusi pasti selalu ada yang ingin disampaikan sehingga tidak ada kata-kata yang tertahan. Ayat tersebut dibaca pada saat ada acara perlombaan seperti pidato, seminar, ulangan da pada saat kegiatan belajar mengajar di kelas. Manfaat yang dirasakan ketika mengamalkan suurat Thaha ayat 25-28 itu sangat besar untuk kehidupan, sebenarnya bukan surat Thahanya yang berpengaruh, tetapi fadilah dan barokah dari surat tersebut, jadi surat Thaha ayat 25-28 bukan di jadikan sebagai jimat atau jampi-jampi untuk memudahkan segala sesuatu hal tetapi diambil barokahnya. Pada saat kegiatan belajar mengajar kakeknya menyampaikan suatu ijazah tentang salah satu surat untuk memudahkan kita dalam berbicara dan mengurangi rasa pemalu dalam diri kita, yaitu surat Thaha ayat 25-28, yang isinya sebagai berikut : (28)يَفْقَهُوا قَوْلِي (27)وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (26)وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (25) صَدْرِي لِي اشْرَحْ رَبِّ قَالَ Artinya : Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku (25) dan mudahkanlah untukku urusanku(26) dan lepaskanlah kelakuan dari lidahku(27) supaya mereka mengerti perkataanku(28) Gambar 2. Wawancara Dengan Ica Anisa Merasa sangat pennting untuk kehidupan akhirnya dian mencoba untiuk mengamalkan surat tersebut selama kuranng lebih 3 tahun, surat thaha diamalkan setelah sholat sebanyak 3 kali tanpa bernapas, selain itu juga dibaca pada saat ada acara besar, hati menjadi tenangketika presentasi atau pertemuan dengan orang-orang penting, manfaatnya yaitu mampu menghilangkan rasa malu dan grogi pada saat akan menyampaikan suatu informasi, sehingga informasi yang disampaikan mudah untuk dimengerti dan dipahami. Hal ini diperkuat dengan suatu pernyataan dari Dr. Zakir Naik selaku tokoh islam yang sudah membuktikan tentang kebesaran al-quran surat thaha ayat 25-28 yang mampu meningkatkan daya ingat dan daya hafal yang sangat luar biasa. BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Setelah penulis melakukan penelitian living Qur’an dengan mengunakan surat Thaha ayat 25-28 sebagai bahan penelitian maka ditarik kesimpulan yaitu : 1. Surat thaha ayat 25-28 diamalkan pada saat akan melakukan kegiatan atau persentasi besar di hadapan banyak orang. 2. Surat thaha ayat 25-28 sangat bermanfaat untuk kehidupan kita, terutama untuk orang-orang yang susah berbicara dan memiliki karakter pemalu. 5.2 SARAN Surat thaha ayat 25-28 sebaiknya diamalkan oleh semua orang, karena sangat bermanfaat dalam kehidupan bersosial atau bermasyarakat. DAFTAR RUJUKAN Imam Jalaluddin, Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. 2000. Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algensindo. IslamKotob. 2002. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia . Rudi Abu azka., 2015., 20. Surat Thaha, Juz 16, Madaniyah, Surat Thaha, Tafsir Surat Thaha, http://www.ibnukatsironline.com, diakses 08 Mei 2016. Al Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W., 2013., Hikmah dibalik doa Nabi Musa a.s, http://AlQur’anDanHaditsRasulullahSAW.com, diakses 14 Mei 2016. Fakhrul Rozi., 2014., Mau cerdas? Baca surah Thaha : 25-28, SUDUT HUKUM, http://www.suduthukum.com. diakses 17 Mei 2016 National-Utusan Online., 2016., Kelebihan Ilmu Tidak Wajar Dipertikai, http://www.utusan.com. diakses 18 Mei 2016 LAMPIRAN Lampiran 1. PedomanWawancara 1. Sejak kapan anda mengamalkan Surat Thaha ayat 25-28 2. Kapan anda membaca Surat Thaha ayat 25-28 3. Apa alasan anda mengamalkan Surat Thaha ayat 25-28 4. Adakah manfaat yang anda rasakan setelah mengamalkan Surat Thaha ayat 25-28 5. Dari siapa anda dapat ijazah untuk mengamalkan Surat Thaha ayat 25-28 6. Apa harapan anda dari Surat Thaha ayat 25-28 Lampiran 2. Wawancara Bersama Narasumber yang Mengamalkan Surat Thaha Ayat 25-28 ( Narasumber 1 Nurul Safikah ) ( Narasumber 2 Ica Anisa )

Komentar

Postingan Populer