Prinsip-Prinsip Kurikulum
A.
Prinsip-prinsip
Kurikulum
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang
merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di
sekolah. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli
kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidikan, pejabat pendidikan, pengusaha serta
unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi
pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan
perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri,
keluarga maupun masyarakat.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan yang dinamis. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus selalu
dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta masyarakat yang sedang membangun. Pengembangan
kurikulum harus didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan yang berlaku. Hal
ini dimaksudkan agar hasil pengembangan kurikulum tersebut sesuai dengan minat,
bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan daerah sehingga dapat
memperlancar pelaksanaan proses pendidikan dalam rangka perwujudan atau
pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengelompokkan
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum ke dalam dua bagian yaitu :
1. Prinsip-Prinsip
Umum
a. Prinsip Relevansi
·
Relevansi Keluar
(Eksternal), yaitu tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam
kurikulum itu sendiri. Maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup
dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan
masyarakat, yang menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam
masyarakat. Isi kurikulum mempersiapkan siswa sekarang dan siswa yang akan
datang untuk tugas yang ada dalam perkembangan masyarakat.
·
Relevansi Didalam
(Internal), yaitu adanya kesesuaian atau kosistensi antara komponen-komponen
kurikulum yaitu antara tujuan, isi proses penyampaian dan penilaian. Relevansi
ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
b. Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas sebagai salah satu prinsip
pengembangan kurikulum dimaksudkan adanya ruang gerak yang memberikan sedikit
kelonggaran dalam melakukan atau mengambil suatu keputusan tentang suatu
kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pelaksana kurikulum di lapangan. Kurikulum
juga hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan
anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan ditempat lain,
bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu
kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi
dalam pelaksanaannya mungkin terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan
kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
c. Prinsip Kontinuitas
(Kesinambungan)
Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung
secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-berhenti. Oleh
karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga
hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya,
antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, juga antara jenjang
pendidikan dengan pekerjaan. Pengembangan kurikulum perlu dilakukan serempak
bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama antara para
pengembangan kurikulum sekolah dasar dengan SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.
d. Prinsip Praktis
Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan,
menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. dan efisien.. Walaupun
bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan
peralatan-peralatan yang sangat khusus dan mahal biayanya maka kurikulum
tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan selalu
dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan , baik keterbatasan waktu, biaya,
alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.
e. Prinsip Efektivitas
Walaupun kurikulum tersebut harus murah dan
sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan
pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan
suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari
perencanaan pendidikan. Perencanaan dibidang pendidikan juga merupakan bagian
yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dibidang
pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.
Kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu:
a.
Tujuan-tujuan
pendidikan.
b.
Isi Pendidikan
c.
Pengalaman belajar
d.
Penilaian
Keempat aspek diatas serta kebijaksanaan pendidikan
perlu selalu mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum.
2. Prinsip-Prinsip
Khusus
a. Prinsip berkenaan dengan
tujuan pendidikan
Tujuan merupakan pusat kegiatan dan arah semua
kegiatan pendidikan. Perumusan kompenen-kompenen kurikulum hendaknya mengacu
pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum
atau berjangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan
pendidikan bersumber pada :
§ Ketentuan
dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen
lembaga negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk didalamnya
pendidikan.
§ Survai
mengenai persepsi orang tua/ masyarakat tentang kebutuhan mereka yang
dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
§ Survei
tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui
angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
§Survai tentang
manpower.
§ Pengalaman
negara-negara lain dalam masalah yang sama.
§ Penelitian
b. Prinsip berkenaan dengan pemilihan
isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan keutuhan
pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu
mempertimbangkan beberapa hal yaitu:
§ Perlu
penjabaran tujuan pendidikan/ pengajaran kedalam bentuk perbuatan hasil belajar
yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan
semakin sulit menciptakan pengalaman belajar
§ Isi
bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.
§ Unit-unit
kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Pengetahuan,
sikap dan ketrampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar.
c. Prinsip berkenaan dengan
pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
§ Apakah
metode/ teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat
melayani perbedaan individual siswa.
§ Apakah
metode/ teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
§ Apakah
metode/ teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan yuntuk mencapai tujuan,
kognitif, afektif dan psikomotor?
§ Apakah
metode/ teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya.
§ Apakah
metode/ teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru.?
§ Apakah
metode/ teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar disekolah dan di
rumah juga mendorong penggunaan sumber yang ada dirumah dan di masyarakat?
§ Untuk
belajar ketrampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan
”learning by doing” di samping ” learning by seeing and knowing.
d. Prinsip berkenaan dengan pemilihan
media dan alat pengajaran
Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung
oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Alat / media
pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat
tersebut tidak ada apa penggantinya?
Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya
memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya dan
waktu pembuatannya?. Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran,
apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
Bagaimana
pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.
Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.
e. Prinsip berkenaan dengan
pemilihan kegiatan penilaian
Penilaian merupakan bagian integral dari
pengajaran:
§ Dalam
penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah : Rumuskan
tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah-ranah kognitif, afektif dan
psikomotor. Uraikan kedalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati.
Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuliskan butir-butir test.
§ Dalam
merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan : Bagaimana kelas, usia,
dan tingkat kemampuan kelompok yang akan dites?. Berapa lama waktu dibutuhkan
untuk pelaksanaan test?. Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?.
Berapa banyak butir test perlu disusun?. Apakah test tersebut diadministrasikan
oleh guru atau oleh murid?
§ Dalam
pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai
berikut: Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test?. Apakah
digunakan formula quessing?. Bagaimana pengubahan skor mentah ke dalam skor
masak?. Skor standar apa yang digunakan?. Untuk apakah hasil-hasil test
digunakan?
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002)
mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Prinsip Relevansi
Secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi
di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan
evaluasi).
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki
relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi
epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta
tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip Fleksibilitas
Dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang
dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya,
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi
tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang
peserta didik.
3. Prinsip Kontinuitas
Adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara
vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang
disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam
tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan
dengan jenis pekerjaan.
4. Efektifitas
Mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum
mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun
kuantitas.
5. Efisiensi
Mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum
dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara
optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
B. Tahapan Pengembangan Kurikulum
Konsep pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai:
1. Perekeyasaan (engineering),
meliputi empat tahap, yakni:
a) Menentukan pondasi atau
dasar-dasar yang diperlukan untuk mengembangkan kurikulum;
b) Konstrukei ialah mengembangkan
model kurikulm yang diharapkan berdasarkan fondasi tersebut.
c) Impelementasi, yaitu pelaksanaan
kurikulum;
d) Evaluasi, yaitu menilai kurikulum secara
komprehensif dan sistemik.
2. Konstruksi, yaitu proses
pengembangan secara mikro, yang pada garis besarnya melalui proses 4 kegiatan,
yakni merancang tujuan, merumuskan materi, menetapkan metode, dan merancang
evaluasi. (Hamalik, 2007: 133)
Pengembangan kurikulum berlandaskan manajemen,
berarti melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum erdasarkan pola pikir
manajemen, atau berdasarkan proses manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi
manajemen, yang terdiri dari:
Pertama, Perencanaan kurikulum yang dirancang
berdasarkan analisis kebutuhan, menggunakan model tertentu dan mengacu pada
suatu desain kurikulum yang efektif.
Kedua, Pengorganisasian kurikulum yang ditata baik
secara struktural maupun secara fungsional.
Ketiga, Impelementasi yakni pelaksanaan kurikulum
di lapangan
Keempat, Ketenagaan dalam pengembangan kurikulum.
Keempat, Ketenagaan dalam pengembangan kurikulum.
Kelima, Kontrol kurikulum yang mencakup evaluasi
kurikulum.
Keenam, Mekanisme pengembangan kurikulum secara menyeluruh.(Hamalik, 2007: 133-134) . Mekanisme Pengembangan Kurikulum
Keenam, Mekanisme pengembangan kurikulum secara menyeluruh.(Hamalik, 2007: 133-134) . Mekanisme Pengembangan Kurikulum
Tahap 1 : Studi kelayakan dan kebutuhan
Pengembang kurikulum melakukan kegiatan analisis kebutuhan program dan
merumuskan dasar-dasar pertimbangan bagi pengembangan kurikulum tersebut. Untuk
itu si pengembang perlu melakukan studi dokumentasi dan/atau studi lapangan.
Tahap 2 : Penyusunan konsep awal perencanaan kurikulum
Konsep awal ini dirumuskan berdasarkan rumusan kemampuan, selanjutnya
merumuskan tujuan, isi, strategi pembelajaran sesuai dengan pola kurikulum
sistemik.
Tahap 3 : Pengembangan rencana untuk melaksanakan kurikulum
Penyusunan rencana ini mencakup penyusunan silabus, pengembangan bahan
pelajaran dan sumber-sumber material lainnya.
Tahap 4 : Pelaksanaan uji coba kurikulum di lapangan
Pengujian kurikulum di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
keandalannya, kemungkinan pelaksanaan dan keberhasilannya, hambatan dan
masalah-masalah yang timbul dan faktor-faktor pendukung yang tersedia, dan
lain-lain yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum.
Tahap 5 : Pelaksanaan kurikulum
Ada 2 kegiatan yang perlu dilakukan, ialah :
1) Kegiatan desiminasi, yakni
pelaksanaan kurikulum dalam lingkup sampel yang lebih luas.
2) Pelaksanaan kurikulum secara
menyeluruh yang mencakup semua satuan pendidikan pada jenjang yang sama.
Tahap 6 : Pelaksanaan penilaian dan pemantauan kurikulum
Selama pelaksanaan kurikulum perlu dilakukan penialaian dan pemantauan
yang berkenaan dengan desain kurikulum dan hasil pelaksanaan kurikulum serta
dampaknya.
Tahap 7 : Pelaksanaan perbaikan dan penyesuaian
Berdasarkan penilaian dan pemantauan kurikulum diperoleh data dan
informasi yang akurat, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk
melakukan pada kurikulum tersebut bila diperlukan, atau melakukan penyesuaian
kurikulum dengan keadaan. Perbaikan dilakukan terhadap beberapa aspek dalam
kurikulum tersebut.(Hamalik, 2007: 142-143)
Sedangkan Soetopo dan Soemanto (1986:60-61)
mengemukakan tahapan atau langkah-langkah pengembangan kurikulum makrokospis
sebagai berikut.
1.
Pengaruh
faktor-faktor yang mendorong pembaharuan kurikulum.
a. Tujuan (objectives)
tertentu, yang permulaannya didorong oleh pengaruh faktor sejarah, sosiologis,
filsafah, psikologis, dan ilmu pengetahuan.
b. Hasil-hasil penemuan riset
dalam interaksi belajar mengajar.
c. ekanan-tekanan, baik yang
berasal dari kelompok penekanan maupun dari pengujian-pengujian eksternal.
2.
Inisiasi
Pengembangan.
Proses pengambilan keputusan baik di dalam maupun di luar sistem
pendidikan mengenai suatu pengembangan atau innovasi kurikulum hendak
dilaksanakan.
3.
Innovasi Kurikulum
Baru
Kurikulum baru dikembangkan melalui proyek-proyek pengembangan kurikulum
yang harus mengikuti fase-fase:
a) Penentuan
tujuan-tujuan (objectives) kurikulum.
b) Produksi
‘materials’ (seperti buku, alat visual, perangkat) dan penciptaan metode-metode
pembelajaran yang sesuai.
c) Pelaksanaan
percobaan-percobaan terbatas pada sekolah-sekolah.
d) Evaluasi
dan revisi ’material’ dan metode.
e) Penyebaran
yang tak terbatas ’material’ dan metode yang sudah direvisi.
4.
Difusi (penyebaran)
Pengetahuan dan Pengertian tentang Pengembangan Kurikulum di luar
Lembaga-lembaga Pengembangan Kurikulum.
Hasil-hasil percobaan kurikulum disebarluaskan di sekolah-sekolah dan
masyarakat umum melalui penanaman pengertian, sehingga mereka akan responsif
terhadap pembaharuan yang hendak dilaksanakan.
5.
Implementasi
Kurikulum yang telah dikembangkan di sekolah-sekolah
6.
Evaluasi Kurikulum
Para pengembang kurikulum mengadakan penilaian tehadap kurikulum yang
telah dilaksanakan, dengan mendapatkan umpan balik dari para guru, murid,
adminisrtrator sekolah, orang tua siswa, Komite Sekolah, dan sebagainya.
Komentar
Posting Komentar